TRADISI MADURA (Sapi Sono`)


Madura adalah pulau paling timur pulau jawa. Madura dikenal dengan adatnya yang keras tapi semua itu adalah anggapan yang sangat salah,sebenarnya di pulau Madura terdapat banyak orang yang cinta akan kedamaian tetapi teradisi lamalah yang memaksa mereka bersifat keras (bercarok), karena dalam tradisi lama ada petua Madura berkata “ kamu tidak akan diaku anak oleh orang tuamu kalau kamu tidak mau bercarok”. Maka dari itu kita harus mengubah semua persepsi itu jangan melihat orang dari luar, lihatlah orang dari dalamnya saja (hatinya). Selain tradisi kasar, madura juga mempunyai berbagai tradisi kesenian yang masih tetap terjaga dan terpelihara sampai sekarang,seperti kerapan sapi,dan sapi sonok.
Sebagaimana kita ketahui bahwa sapi Madura adalah salah satu bangsa sapi asli Indonesia, banyak didapatkan di Pulau Madura, dan pulau-pulau di sekitarnya. Termasuk pulau Sapudi sangat dikenal sebagai tempat sapi Madura. Sapi Madura merupakan persilangan Bos sondaicus dengan Bos indicus. Ciri-ciri punuk diperoleh dari Bos indicus sedangkan warna diwarisi dari Bos sondaicus. Salah satu kelebihan sapi Madura adalah tahan terhadap kondisi-pakan yang berkualitas rendah. Namun ada kecenderungan bahwa mutu sapi Madura menurun produktivitasnya atau terjadi pergeseran nilai (produktivitas) dari waktu ke waktu, yang sanipai saat ini pertyebabnya belum diketahui dengan jelas.
Sapi, bagi masyarakat Madura merupakan hewan yang paling banyak berjasa dalam menggarap lahan pertanian. Tanah pertanian yang tandus amat terbantu dengan tenaga sapi untuk membajak tanah tegalan. Karena besarnya jasa sapi kepada petani , maka para petani memberikan perlakuan khusus kepada sapi piaraanya . Perhatian tersebut dilakukan dengan memberikan kandang khusus, makanan pilihan dan sesekali dimandikan untuk membersihkan kotoran dan menjaga kesehatannya.
Salah satu budaya Madura yang masih terjaga sampai saat ini adalah sapi sono`.Sapi sono` adalah suatu tradisi Madura yang mempertunjukkan kebolehan sapi betina dalam melalui jalan lurus dan memasasuki gapura. Tradisi itu bertujuan untuk menghibur masyarakat dimadura, yang sebagian besar memelihara sapi betina. Dalam sapi sono` para pemilik sapi memanjakan dan merawat dengan insentif, sebagaimana layaknya sapi kerapan. Sapi -sapi tersebut diberikan makanan pilihan perawatan kebersihan dan kesehatannya . Sapi sono atau sapi Pajhangan , merupakan sapi betina pilihan yang dipajang dan diberi aksesoris layaknya sapi kerapan , hanya saja tidak menggunakan Kaleles. Pada sepasang sapi sono dipasang pangonong , dan pakaian yang bersulamkan benang emas yang berkilauan ketika ditimpa sinar matahari. Pada pakaian tersebut terdapat rumabi -rumbai yang bergelantungan dan tak kalah menariknya kulit sapi terlihat bersih terawat dengan kuku dan tandhuk yang terpelihara pula.
Kontes sapi sono` biasanya diadakan bersamaan dengan kerapan sapi . Pelaksanannya mengawali pelaksanaan kerapan sapi. Lapangan yang digunakan sama seperti lapangan kerapan sapi. Dua pasang sapi akan dilepas dari garis start menuju lintasan atau arena yang panjangnya 25 meter yang terdapat labhang saketheng ( semacam Gapura ) yang diberi aneka benda supaya sapi ketakutan ketika melintasi gerbang. Benda benda yang dipasang di setiap gapura yang akan dilewati sapi, antara lain : cermin besar, orang - orangan atau topeng dan semacamnya. Pasangan sapi yang mengikuti kontes akan dinilai oleh juri kontes. Penilaian yang diberikan juri meliputi : keanggunan sapi ketika berjalan dengan pasangannya dengan arah lurus kedepan. Keselarasan waktu berjalan , seirama dengan musik pengiring yang menyertainya menjadi unsur penilaian yang turut menentukan. Keselarasan ketika berjalan, kesamaan langkah sapi sono dan kepaduannya dengan musik menjadi suatu tontonan yang menarik.
Hal itu hanya bisa dilakukan pasangan sapi yang terlatih dengan baik. Artinya sapi yang terbiasa dengan latihan akan mampu memadukan langkah kaki dengan irama musik. Latihan yang memerlukan ketelatenan dan kesabaran sehingga sapi mengenal irama musik yang menyertainya. Unsur penilaian lainnya , ketepatan berhenti dibawah gapura yang diberi benda yang menakutkan tadi. Sapi yang tidak takut atau berani dan terlatih dengan baik, akan berhenti tepat dibawah gapura sesuai dengan perintah pengendali atau pemiliknya. Sapi yang tepat berhenti dibawah gapura telah ditetapkan dewan juri sebagai pemenang. sapi yang menang dalam kontes sapi sono juga memiliki harga jual yang cukup mahal. Namun, dalam event ini semua peserta berhak mendapatkan penghargaan dari panitia. Hal ini sangat berbeda dengan event karapan sapi, penghargaan hanya diberikan pada satu pemenang saja.
Keberadaan sapi sono menandakan kentalnya budaya tradisi Madura yang berhubungan dengan sapi. Sekaligus menguatkan bahwa sapi merupakan hewan yang paling banyak dipelihara oleh petani Madura. Lestarinya sapi sono, menandakan pula lestarinya teknik -teknik pemeliharaan dan perawatan sapi Madura. Secara langsung , lestarinya sapi sono merupakan upaya pelestarian jenis sapi betina yang memiliki kualitas bagus. Pada gilirannya akan mampu mempertahankan jenis sapi Madura, sebagai jenis lokal yang berkualitas unggul.Pelestarian sape sono juga menandakan kecintaan petani Madura terhadap hewan peliharaan yang banyak membantu meringankan pekerjaan petani saat menggarap lahan pertanian.Dilihat dari nilai investasi , sapi sono merupakan salah satu cara menjaga kualitas sapi serta meningkatkan nilai jual yang berarti pula dapat meningkatkan perekonomian petani. Maka dari itulah kita wajib menjaga dan melestarikannya ,agar budaya kita tidak tergerus oleh kemajuan zaman ,kita sebagai penerus bangsa wajib memelihara dan mempelajarinya. Jangan sampai orang asing merebutnya dari kita.

0 komentar:

:10 :11 :12 :13
:14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21
:22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29
:30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37
:38 :39 :40 :41
:42 :43 :44 :45

Posting Komentar